Langkah ini diharapkan dapat memperkuat perekonomian nasional dengan strategi investasi yang lebih terarah dan optimal. Namun, berbagai tanggapan muncul dari berbagai kalangan, baik yang optimis maupun yang skeptis terhadap efektivitas dan transparansi pengelolaannya.
Optimisme terhadap Danantara
Presiden Prabowo Subianto, dalam pernyataannya pada 24 Februari 2025, menegaskan bahwa Danantara merupakan "solusi strategis dan efisien untuk mengoptimalkan BUMN.
" Ia menambahkan, "Kami tidak hanya akan menginvestasikan dividen perusahaan negara ke dalam industri yang mendukung pertumbuhan jangka panjang, tetapi juga mentransformasi BUMN kita menjadi pemimpin dunia di sektor masing-masing" (Reuters).
Senada dengan itu, Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence (IEI), Sunarsip, dalam wawancaranya pada 24 Februari 2025, menyebutkan bahwa "hampir dapat dikatakan strategi investasi melalui Danantara adalah langkah positif. Namun, pengelolaan ekonomi tidak hanya sebatas investasi dan pertumbuhan ekonomi" (Republika).
UBS Global Research pada 22 Februari 2025 juga menilai bahwa kekhawatiran terhadap potensi dampak fiskal dari Danantara tidak berdasar. "Kementerian Keuangan tetap memegang kendali atas dividen BUMN sehingga tidak ada perubahan fundamental dalam mekanisme pendapatan negara," menurut riset mereka (MetroTV News).
Tantangan dan Kritik terhadap Danantara
Di sisi lain, skeptisisme terhadap Danantara juga mencuat. Pengamat hukum dan pembangunan, Hardjuno Wiwoho, dalam analisanya pada 20 Februari 2025, menyoroti potensi risiko korupsi dan intervensi politik. "Dalam kasus BLBI, kita melihat bagaimana dana negara dapat disalahgunakan akibat lemahnya pengawasan dan intervensi politik yang kuat" (Antara News).
Eddy Junarsin, ekonom dari Universitas Gadjah Mada, pada 21 Februari 2025 menyayangkan bahwa "kemunculannya kena imbas isu politik," yang berpotensi menghambat kinerja dan efektivitas Danantara dalam mengelola investasi negara (UGM).
Perspektif Riset dan Development (R&D)
Dari sudut pandang riset dan pengembangan, Danantara memiliki potensi besar untuk menciptakan ekosistem inovasi dalam pengelolaan aset negara. Menurut laporan Indonesia Economic Research Institute (IERI) pada Februari 2025, "Superholding ini dapat berperan sebagai akselerator dalam penelitian dan pengembangan teknologi industri, asalkan memiliki kebijakan investasi yang mendukung inovasi dan peningkatan kapabilitas SDM."
Lebih lanjut, laporan dari Center for Economic and Policy Research (CEPR) menyoroti perlunya Danantara mengalokasikan sebagian investasinya ke sektor riset dan teknologi. "Investasi dalam teknologi dan digitalisasi akan memastikan daya saing jangka panjang Danantara," ungkap CEPR dalam laporan mereka pada 15 Februari 2025.
Pembentukan Danantara Indonesia menandai langkah ambisius pemerintah dalam mengoptimalkan pengelolaan aset negara dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan model yang terinspirasi dari Temasek dan GIC di Singapura, Danantara memiliki potensi untuk menjadi katalis ekonomi nasional.
Namun, tantangan utama yang harus dihadapi adalah memastikan transparansi, efektivitas pengelolaan, serta membangun sistem yang bebas dari intervensi politik agar tidak bernasib seperti skandal investasi lainnya.
Keberhasilan Danantara juga sangat bergantung pada keberlanjutan investasi dalam riset dan pengembangan. Dengan kebijakan yang tepat, superholding ini dapat berkontribusi lebih jauh dalam meningkatkan daya saing industri nasional dan membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan.
Apakah akan menjadi perusahaan bersih dari pengelolaan aset dan anggarannya, dalam hal ini masih masih menjadi perdebatan publik status pengawasannya tersebut. (Nurulhuda)
Posting Komentar