Lamongan - Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ahmad Dahlan sukses menggelar pelantikan pengurus baru periode 2025/2026 pada Minggu (16/02/2025), dengan mengusung tema “Reaktualisasi Pemikiran Profetik”. Kegiatan ini berlangsung di Aula SMK Muhammadiyah 4 Lamongan dan dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk perwakilan kampus, PC IMM Kabupaten Lamongan, serta tamu undangan dari organisasi mahasiswa di dalam lainnya.
Acara pelantikan secara khidmat dipandu oleh pembawa acara memulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya , Mars Muhammadiyah dan Mars IMM.
Selanjutnya ketua panitia Dzaki Herli Mahendra dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema yang diangkat mencerminkan semangat IMM untuk terus mengembangkan pemikiran profetik (spirit kenabian) dalam gerakan intelektualitas, humanitas, dan spiritualitas.
Ahmad Aldiansyah Firdaus, selaku Ketua Umum PK IMM Ahmad Dahlan periode 2023-2024 menuturkan dalam sambutannya, "mengibaratkan kepengurusan IMM sebagai perjalanan kapal. Momentum ini menggambarkan dua kondisi: ada kapal yang bersiap turun di dermaga, dan ada kapal yang mulai bergerak,”.
Aldi menegaskan kembali bahwa IMM adalah ruang untuk berproses, bukan sekadar mengejar hasil akhir. Dalam organisasi, yang utama bukanlah hasil, melainkan bagaimana kita menjalankan proses dengan penuh tanggung jawab", ungkapnya.
Terkait tema yang diangkat, Aldi mengingatkan agar reaktualisasi pemikiran profetik tidak hanya menjadi simbolis, melainkan benar-benar dijalankan dalam gerakan nyata. “Pemikiran profetik dari Kuntowijoyo ini bukan hanya sekadar wacana. Kita harus mengimplementasikannya dalam tindakan kita dalam ber-IMM,” ujarnya.
Lebih jauh Aldi, menyoroti tiga aspek utama dalam pemikiran profetik:
1. Liberalisasi – Membebaskan manusia dari belenggu kebodohan dan ketertinggalan.
2. Humanisasi – Ia pun mengibaratkan letak 3 aspek profetik dimana liberasi berkaitan dengan pembebasan punya letak di akal, humanisasi mengenai nilai nilai kemanusiaan terletak di hati, dan transendensi yang menjadi ruh tersendiri serta menjadi orientasi dari 2 poin sebelumnya.
3. Transendensi – Menjadikan spiritualitas sebagai dasar pergerakan dan pengambilan keputusan.
Sebagai ketua baru M.Sutaqwim Izul, selaku ketua umum periode 2025-2026 melanjutkan analogi kapal dalam kepemimpinan. “Kapal ini akan berlayar. Tapi jangan sampai berhenti di tengah laut. Kita harus menuntaskan perjalanan kapal ini, seperti halnya reaktualisasi pemikiran profetik", tuturnya.
Ia menegaskan bahwa amanah dalam kepengurusan bukanlah sekadar formalitas, tetapi tanggung jawab yang harus dijalankan dengan penuh kesadaran. “Kami memohon agar pelantikan ini tidak hanya menjadi persepsi seremonial semata, tetapi benar-benar direaktualisasikan dan direalisasikan dalam gerakan kita ke depan".
Drs. Marzuki, M.,Pd. Sebagai ayahanda Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) menegaskan bahwa, "kepemimpinan manusia di muka bumi adalah amanah dari Allah SWT. Meskipun para malaikat sempat mempertanyakan keputusan tersebut, Allah menegaskan bahwa Dia lebih mengetahui hikmah di balik penciptaan manusia sebagai pemimpin".
Marzuki menuturkan kembali, "Reaktualisasi pemikiran profetik menekankan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual, seperti amanah, kejujuran, dan tanggung jawab. Hal ini sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW yang menekankan bahwa kepemimpinan adalah sarana untuk membawa kesejahteraan bagi umat".
Marzuki juga menekankan bahwa kepemimpinan di IMM harus didasarkan pada pemikiran progresif dan berbasis solusi agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. “Kepemimpinan yang baik bukan sekadar titel, melainkan kebutuhan mendesak dalam menjawab tantangan zaman dan menciptakan perubahan yang lebih baik bagi umat,” ujarnya.
Sambutan ke empat oleh Alexi Candra Putra KN, selaku Ketua Umum PC IMM Lamongan menuturkan, "Sangat penting mengutamakan kepentingan bersama bukan kepentingan pribadi karena kita menjadi kader Muhammadiyah wajib bisa memimpin dan harus mau dipimpin, hal ini yang menjadikan identitas bagi kita sebagai kader Muhammadiyah.
Sesuai dengan yang dinarasikan Ali Syariati bahwasannya kita sebagai sosok rausyan fikr atau masyarakat yang tercerahkan. kita juga harus mengimplementasikan tanggung jawab sebagai "kuntum khoiro ummat" Sesuai cita-cita orientasi konsep pemikiran profetik .
Seharusnya kita menjadi pemimpin bukan malah mematahkan ketika membuat kata kata tapi seharusnya menemukan tips-tips yang ada di dalam kata-kata itu sendiri.
Mengadopsi kata Ki Hajar Dewantara pemimpin di depan harus bisa menjadi tauladan, pemimpin di tengah menjadi penyeimbang dan pemimpin di belakang menjadi pendorong atau motivator "Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani". Flosofi ini sangat dalam bagi pendidikan khususnya kita sebagai mahasiswa/masyarakat terdidik.
Menjadi mahasiswa Muhammadiyah harus menjadi pembeda, menjadi agent of change dan Agent of Contro untuk Pengetahuan dan perkembangan teknologi industri. Di IMM kita mengambil teori dari sosial profektif yang dikemukakan oleh bapak kuntowijoyo hal ini sesuai dengan ideologi yang diadopsi IMM yang kemudian memiliki isi kompetensi dasar komoditas dan kualitas.
Pelantikan ini tidak hanya menjadi ceremoni semata, tetapi juga momentum untuk memperkuat nilai-nilai IMM dalam pergerakan mahasiswa. Dengan mengusung reaktualisasi pemikiran profetik, kepengurusan baru diharapkan mampu membawa IMM Ahmad Dahlan semakin aktif dalam pergerakan intelektual, sosial, dan dakwah, serta menjadi pelopor dalam perubahan positif untuk mahasiswa dan masyarakat.
Acara ditutup dengan sesi Transformasi Nilai, dimana kepengurusan lama dan baru saling berbagi pengalaman, motivasi, serta harapan untuk IMM ke depan.
Dengan kepemimpinan yang solid dan visi yang kuat, IMM Ahmad Dahlan siap melanjutkan perjalanan kapal dengan nahkoda baru, membawa manfaat bagi sesama, dan merealisasikan nilai-nilai profetik dalam kehidupan nyata. (Bahrul Islami & Serly Eka)
Posting Komentar